Monday, October 5, 2026
HomeBatamHarga Emas, Bensin, hingga Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi 3,49% pada September...

Harga Emas, Bensin, hingga Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi 3,49% pada September 2026

Batam, Insightkepri.com – Inflasi tahunan di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mulai menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepri pada September 2026 tercatat mengalami inflasi sebesar 3,49% secara tahunan (year-on-year/yoy), turun dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai 3,87%.

Meski melandai, tekanan harga di Kepri masih relatif tinggi. Sejumlah komoditas, mulai dari emas perhiasan, tiket pesawat, bensin hingga kebutuhan pangan, masih menjadi penyumbang utama inflasi tahunan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri, Rony Widijarto P, mengatakan kenaikan harga emas perhiasan menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil 0,44%. Selanjutnya, angkutan udara menyumbang 0,30%, bensin 0,27%, nasi dengan lauk 0,26%, serta beras sebesar 0,18%.

“Masih tingginya harga emas perhiasan sejalan dengan perkembangan harga emas global, sementara tarif angkutan udara dan harga bensin masih berada di atas level tahun sebelumnya seiring penyesuaian biaya transportasi dan harga BBM nonsubsidi,” ujar Rony dalam siaran pers, Jumat (2/10/2026).

Ia menjelaskan, harga nasi dengan lauk juga masih bertahan pada level yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut dipengaruhi akumulasi kenaikan harga pada periode sebelumnya serta masih tingginya biaya bahan baku dan faktor produksi.

Akibatnya, nasi dengan lauk tetap memberikan kontribusi cukup besar terhadap inflasi tahunan, meskipun kenaikan harganya pada September 2026 tidak terlalu signifikan.

*Inflasi Kepri Lebih Tinggi dari Nasional*

Dibandingkan tingkat nasional, inflasi tahunan Kepri masih berada di atas rata-rata. Inflasi Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar 3,28% (yoy), lebih rendah dibandingkan Kepri yang mencapai 3,49%.

Secara nasional, tekanan inflasi terutama berasal dari emas perhiasan, bensin, ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.

BACA JUGA:  Li Claudia Tegas Soal Reklame Ilegal, Dorong Pengusaha Urus Izin: Batam Harus Lebih Tertata

Menurut Rony, terdapat kesamaan sumber tekanan inflasi antara Kepri dan nasional, khususnya pada emas perhiasan, bensin, dan beras. Namun, angkutan udara serta nasi dengan lauk memberikan kontribusi yang lebih dominan terhadap inflasi di Kepri.

Jika dilihat berdasarkan wilayah, seluruh daerah penghitung IHK di Kepri mencatat inflasi tahunan. Kota Tanjungpinang mencatat inflasi tertinggi sebesar 3,76%, disusul Kota Batam sebesar 3,65%. Sementara itu, Kabupaten Karimun mencatat inflasi sebesar 1,63%.

Di kawasan Sumatera, inflasi Kepri menempati posisi kelima tertinggi. Angka tersebut berada di bawah Aceh yang mencapai 5,03%, Kepulauan Bangka Belitung sebesar 4,30%, Lampung sebesar 3,51%, dan Sumatera Barat sebesar 3,50%.

Harga Cabai dan Ayam Dorong Inflasi Bulanan

Tekanan harga juga kembali terasa secara bulanan. Pada September 2026, Kepri mengalami inflasi sebesar 0,27% (month-to-month/mtm), berbalik arah dari Agustus 2026 yang mencatat deflasi sebesar 0,17%.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan dengan kenaikan sebesar 0,88% dan andil 0,26%.

Kenaikan harga cabai merah, kangkung, dan cabai rawit menjadi salah satu faktor pendorong. Kondisi ini dipengaruhi keterbatasan hasil panen dari daerah sentra produksi di Sumatera bagian utara dan Jawa.

Selain komoditas hortikultura, harga daging ayam ras juga mengalami peningkatan akibat permintaan yang naik di tengah terbatasnya pasokan.

Kelompok pendidikan turut memberikan tekanan terhadap inflasi dengan kenaikan sebesar 0,41% dan andil 0,03%. Peningkatan biaya akademi dan perguruan tinggi, terutama akibat pembayaran pendaftaran ulang mahasiswa pada September, menjadi salah satu pemicunya.

Di sisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga pada kelompok transportasi. Kelompok ini mengalami deflasi sebesar 0,25% dengan andil minus 0,03%.

Penurunan tarif angkutan udara menjadi faktor utama, seiring memasuki periode low season setelah berakhirnya lonjakan permintaan selama musim liburan.

BACA JUGA:  Nilai Investasi Tumbuh, Ekonomi Batam Maju

BI Waspadai Harga Emas dan Komoditas Pangan pada Oktober

Memasuki Oktober 2026, BI Kepri mengingatkan adanya sejumlah risiko yang berpotensi kembali mendorong kenaikan harga.

Salah satunya adalah volatilitas harga emas dunia yang masih tinggi akibat ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), serta ketegangan geopolitik global.

Selain itu, tekanan inflasi dari barang impor (imported inflation) dan potensi kenaikan harga komoditas hortikultura, terutama cabai merah dan cabai rawit, juga perlu diantisipasi.

Menghadapi berbagai risiko tersebut, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Kepri terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan pangan.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), yang menjadi wadah sinergi baru dalam mendukung pengendalian inflasi sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Sepanjang September 2026, sejumlah langkah stabilisasi telah dilaksanakan, di antaranya High Level Meeting TPID tingkat Provinsi Kepri, rapat koordinasi TPID Kota Batam, penyaluran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) secara rutin di berbagai kabupaten dan kota, serta penyaluran sarana dan prasarana ketahanan pangan kepada kelompok tani unggulan di Kepri.

Ke depan, BI bersama TPID akan terus mendorong peningkatan produksi pangan, menggelar pasar murah, memperkuat Kerja Sama Antar Daerah (KAD), serta meningkatkan koordinasi pengendalian inflasi.

Berbagai upaya tersebut diharapkan mampu menjaga inflasi Kepri hingga akhir 2026 tetap terkendali dalam rentang sasaran 2,5% plus minus 1%. (ina)

BERITA TERKAIT
spot_img
spot_img

POPULER